lewat cara yang amat bersahaja Tuhanku……

Juli 27, 2009 at 2:09 pm Tinggalkan komentar


Aku sama sekali tidak mencintai istriku.Ini mesti dicatat.Aku menikahi dia hanyalah semata-mata atas dasar kepatuhanku pada kedua orang tua.Mungkin ia pun begitu.Tetapi yang jelas,selama dua bulan menikah dengannya aku merasa sebagai lelaki yang paling malang di jagad ini.

Istriku terlalu pemalu dan kurang memenuhi standar di ajak bergaul dalam lingkunganku.Ia lebih banyak diam ketika aku butuh teman bicara.Ia tak acuh ketika aku  cerita tentang rekan-rekan sekerja.

Dan yang lebih mengesalkan lagi,ia tak pandai memasak seperti ibuku.Yang terlalu asinlah,yang terlalu pedaslah.Huh jengkel !

Barangkali orang menuduh alasan yang kukemukakan ini terlalu mengada-ada.Sama sekali tidak.Bayangkan saja,lingkungan teman-teman sekerjaku sangat akrab.Karyawatinya manis-manis,pandai bergaul, supel, dan bisa diajak bicara apa saja.Mereka pandai bersolek.Aku sering diam-diam mengagumi cara mereka berdandan.Mulai dari tata rias wajah, pakaian, warna yang dikenakan, selalu serasi.Rasanya mereka itupunya banyak ide untuk berganti-ganti mode.

Ya, sebenarnya aku hanya menikmati.Aku juga takut mendekati mereka dengan sungguh-sungguh. Buktinya, tak satupun dari mereka yang berhasil kudekati untuk serius menuju pelaminan.Sampai akhirnya aku kawin dijodohkan orang tua.

Dari hari ke hari,seperti kupaparkan tadi, aku semakin tak menyukai keadaan istriku.Semakin kuingat-ingat kekurangannya,hatiku semakin sebal.Aku merasa ia tak pantas jadi istriku.

Sampai suatu pagi, seperti biasa, aku mencuci motorku sebelum berangkat kerja.Istriku datang mendekat. Dan seperti biasa, aku langsung merasa risih dan asing.

” Mas, apa masih menyimpan lem aibon barang sedikit saja? ” tanyanya datar.

aku menggeleng. ” buat apa? ” tanyaku tak acuh.

” enggak, Mas. itu lho,kaca bedakku copot,aku mau ngelem,” jawabnya kalem, lalu meninggalkanku.

Entah mengapa, pertanyaann itu seperti meninggalkan bekas yang mendalam dihatiku. Seperti ada yang mendorong, kutinggalkan sepeda motorku dan masuk ke kamar. Ku periksa kotak bedaknya. Merk murahan, bukan yang mahal seperti punya teman-teman sekerjaku. Dan memang, cerminnya telah terlepas.

Tes! Tiba-tiba hatiku mau menangis. Hatiku pedih karena ternyata belum mampu membelikan bedak mahal buat istriku. Jangankan yang mahal, bedak murah pengganti yang rusak ini pun tidak.

Ku pejamkan mataku. Tiba-tiba aku merasa harus mengoreksi diriku. Syukur masih ada perempuan yang mau menjadi teman hidupku. Syukur ia tabah dan tidak minta pulang ke rumah orang tuanya di kampung. Bisikku pada diri sendiri.

Tiba-tiba terbit rasa ibaku atau mungkin juga rasa kasihan pada istriku. Kalau saja aku bisa menerimanya apa adanya, sebenarnya kekurangan-kekurangannya itu telah tertutup perilakunya yang begitu pasrah dan bekti. Ia tak pernah mengeluh. Ia mencucikan pakaianku, menyetrika, dan membersihkan rumahku. Semua keperluan pribadiku tersedia tepat waktu ketika aku membutuhkannya. Termasuk makanan-makanan yang ku anggap tidak enak tadi. Kehidupanku ketika membujang jauh berbeda dengan keadaanku sekarang. Aku kini lebih terurus. Penghasilanku yang dulu pas-pasan, bahkan sering ngutang makan di warung, setelah dipegang istriku itu cukup-cukup saja.

Saat itu juga aku merasa harus mulai belajar mengasihi istriku. Bila ia di hargai, dikasihi, mungkin akan tampak lebih ceria dan cantik. Kekurangan-kekurangannya akan terasa terkikis dengan sendirinya, kalau tidak terlalu di besar-besarkan. Begitu perubahan yang muncul dalam pikiranku.

Sejak saat itu aku selalu berusaha menerima istriku apa adanya sebagai seorang manusia yang punya kelebihan dan kekurangan, seperti juga aku. Dan aku mengucapkan Terima kasih kepada Tuhan karena telah membukakan mataku lewat kotak bedak itu. Lewat cara yang amat bersahaja……..  ”

(Di sadur dari Majalah Kartini No. 445, 9 s/d 22 Desember 1991 )

Huffh…..

Terharu…terenyuh dan bahkan menitikkan air mata saat ku baca cerita di atas. Betapa seringkali kita melupakan dan tak sadar kebaikan tersembunyi yang telah di beri Allah pada hidup kita. Terhadap pasangan dan orang sekitar kita. Orang-orang yang mengasihi kita. Ikhlas menerima segala pemberian dan Anugrah yang tak mungkin dan tak pernah salah di beri Tuhan untuk hidup kita. Betapa selalu kita membanding-bandingkan “kamu” dengan “dia” ,betapa rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri . sungguh naif jika tak mengakui…karena rasa Syukur yang masih dangkal pada hati dan jiwa, rasa tidak puas akan nikmat yang sebenarnya sungguh meluap telah dan juga masih selalu diberi olehNya…Bilakah hati akan terketuk dan menyadari bahwa nikmat itu tak pernah berhenti menghampiri? bilakah kita menerima dan ikhlas dengan semua itu? bilakah dengan cara yang amat sederhana kita lebih saling mengasihi? Subhanallah…sungguh Allah Maha Mengetahui….semoga saja hati kita adalah hati yang selalu merindu HidayahNya…hati yang tak beku dan membatu karena melihat segala sesuatu dari “indah ” yang nyata…

Entry filed under: renungan. Tags: , , , , , .

berikan aku luka…. Doa ketika dililit hutang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juli 2009
S S R K J S M
    Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: